Umat Muslim Menyambut Ramadan 1447 Hijriah dengan Semangat Persiapan Spiritual dan Sosial
Yogyakarta – Umat Muslim di seluruh Indonesia bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah dengan penuh rasa syukur dan harapan. Ramadan merupakan momentum tahunan yang tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ibadah puasa, tetapi juga sebagai waktu refleksi diri, peningkatan spiritualitas, serta penguatan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, hingga pemerintah, melakukan persiapan menyeluruh agar pelaksanaan Ramadan dapat berlangsung khusyuk, tertib, dan memberikan dampak positif yang luas.
Menjelang Ramadan, berbagai persiapan dilakukan baik secara individu maupun kolektif. Secara spiritual, umat Muslim mulai meningkatkan kualitas ibadah dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memperbaiki hubungan sosial, serta melakukan introspeksi diri sebagai bekal memasuki bulan penuh ampunan. Kajian keislaman dan pengajian pra-Ramadan juga semakin intens diselenggarakan di masjid, kampus, dan komunitas masyarakat.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Penetapan ini menekankan kesatuan matlak global, di mana parameter hilal terpenuhi di wilayah tertentu (Alaska) pada 17 Februari, berlaku untuk seluruh dunia. Berikut adalah poin-poin penting pandangan Majelis Tarjih tentang Ramadan 1447 H (2026 M):
- Penetapan Awal Ramadan:Berdasarkan surat keputusan Nomor 01/MLM/I.1/B/2026, 1 Ramadan 1447 H adalah Rabu, 18 Februari 2026.
- Awal Syawal (Idul Fitri):1 Syawal 1447 H ditetapkan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
- Metode:Menggunakan hisab hakiki dengan prinsip KHGT, yang tidak lagi bergantung pada terlihatnya hilal secara lokal di Indonesia, melainkan kesatuan waktu dunia.
- Tuntunan Ibadah:Puasa Ramadan dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat karena Allah.
- Gerhana Bulan:Terdapat anjuran melaksanakan salat Gerhana Bulan (khusuf) pada 14 Ramadan 1447 H (3 Maret 2026), sebagai bentuk zikir dan ibadah, bukan pertanda buruk.
Di tingkat lokal, masjid-masjid mulai melakukan kegiatan kerja bakti, perbaikan fasilitas ibadah, serta penyusunan jadwal imam dan penceramah tarawih. Salah satu pusat kegiatan keagamaan yang aktif mempersiapkan rangkaian Ramadan adalah Masjid Gedhe Kauman di Yogyakarta, yang setiap tahunnya menjadi lokasi berbagai kegiatan keislaman seperti kajian tafsir, buka puasa bersama, dan penyaluran zakat bagi masyarakat.
Tidak hanya aspek ibadah, persiapan ekonomi juga menjadi perhatian. Pelaku usaha kecil dan UMKM mulai meningkatkan produksi makanan berbuka puasa, busana muslim, serta kebutuhan Ramadan lainnya. Momentum ini sekaligus menjadi peluang peningkatan ekonomi masyarakat berbasis nilai kebersamaan dan keberkahan. (PBS)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!