Hikmah Dari Surat An-Nisa’ Ayat ke 58: Amanah yang Dikembalikan
Yogyakarta – Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Faris. Ia bekerja sebagai staf administrasi di sebuah lembaga pelayanan masyarakat. Setiap hari, banyak orang datang kepadanya membawa berkas, harapan, dan kepercayaan. Faris tahu betul, pekerjaannya bukan sekadar mencatat dan mengarsipkan, tetapi menjaga amanah orang lain. Suatu hari, Faris menerima dua berkas penting. Yang satu milik kerabat dekatnya, sementara yang lain milik seorang ibu sederhana yang datang dari desa. Berkas kerabatnya sudah lengkap, namun sang ibu datang dengan dokumen yang masih perlu dilengkapi. Di sisi lain, ada bisikan dalam hati Faris, “Bukankah lebih mudah mendahulukan keluarga?”
Malam itu, Faris pulang dengan hati yang gelisah. Ia membuka mushaf dan membaca Surat An-Nisā’ ayat 58, yang mengajarkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak, dan setiap keputusan diambil dengan adil. Ayat itu seolah berbicara langsung kepadanya—lembut, tetapi tegas. Keesokan harinya, Faris mengambil keputusan. Ia memproses semua berkas sesuai prosedur, tanpa membedakan siapa pemiliknya. Ia bahkan membantu ibu desa itu melengkapi dokumennya, dengan sabar dan penuh empati. Ketika sang ibu akhirnya tersenyum dan mengucap terima kasih, Faris merasakan ketenangan yang tak bisa dibeli dengan apa pun.

Pesan Dari Surat An-Nisa 58
Beberapa minggu kemudian, pimpinan lembaga tersebut mengumumkan evaluasi kinerja. Tanpa Faris duga, namanya disebut sebagai pegawai teladan. Bukan karena kedekatan, tetapi karena kejujuran dan keadilannya dalam menjalankan tugas. Faris teringat kembali pada ayat yang ia baca malam itu—bahwa amanah dan keadilan selalu membawa keberkahan, meski kadang terasa berat di awal. Sejak hari itu, Faris semakin yakin bahwa amanah bukan hanya tentang kepercayaan orang lain, tetapi juga tentang pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ia belajar bahwa keadilan tidak selalu membuat kita disukai semua orang, namun selalu membuat hati kita tenang. Dan di kota kecil itu, Faris dikenal bukan karena jabatannya, melainkan karena satu hal sederhana: ia menjaga amanah dan berlaku adil, sebagaimana pesan agung dalam Surat An-Nisā’ ayat 58. (PBS)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!